My Favourite Pic

My Favourite Pic
Like a so much

Simak Qur'an dengan hati yang tenang let's Go...

Lihat Tangal Sekarang Tuh,......biar gak lupa... okey..

Jumat, 15 Agustus 2008

Grop Kenthongan Jankiss Purwokerto Selatan, Karang Klesem

Jankiss
Liburan hari raya kali ini, saya beserta keluarga besar dari pihak ibu saya pergi ke daerah Purwokerto, kabupaten Banyumas. Rombongan yang berjumlah 60 orang, menyewa satu bis besar untuk mengangkut ‘tim hore’ ke tempat tujuan. Pergi pada hari kamis pagi melalui jalur selatan, alhamdulillah tidak terlalu terjebak kemacetan yang fatal, seperti yang kami khawatirkan sebelum kami pergi. Informasi sekitar mudik di lintas selatan, khususnya di daerah Nagrek, cukup membuat kami jengah membayangkannya saja…

Kami sempat bermain juga di Pantai Ayah, kunjungan saya ke tempat ini terakhir dilakukan pada tahun 1980-an, sekarang suasananya sangat berbeda, Pemda setempat berusaha untuk menata objek wisata yang cukup besar kontribusi pendapatan daerah dari sector pariwisata. Tempat parker bis cukup jauh dari lokasi pantai, kami diharuskan berjalan kaki menyusuri pantai dengan jembatan beton yang disediakan di sepanjang pantai. Cukup nyaman sambil menikmati angin segar sehingga tidak terasa jarak jauh yang sekitar 300 meter itu kami lewati. Waktu yang tersisa sangat sempit, sehingga kami hanya gunakan waktu dengan berkeliling muara pantai dengan menggunakan perahu dengan biaya sekitar 3000 perorang, cukup murah… sambil menantikan matahari yang lelah pergi tenggelam di ujung horizon pantai… selamat tidur matahari.. bangunkan kembali kami esok hari..

Tiba di Hotel Erlangga, hotel kecil depan terminal lama Purwokerto tempat kami menginap, pada pukul 7 malam. Rombongan kami disambut oleh pemilik hotel dan satu kesenian tradisional dari daerah Purwokerto Selatan. Seni Kenthongan yang sebetulnya bisa kita jumpai juga di belahan bumi Jawa bagian Barat hanya dengan istilah yang berbeda, karena kesenian ini menggunakan alat musik dari bahan bambu semuanya. Dari mulai calung, angklung, suling dan kolintang, untuk grup ini ditambahkan pula perkakas seni lainnya, yaitu gendang, drum dan kecrek. Di Jawa Barat atau di belahan propinsi kita di tanah air, kita kenal alat kesenian seperti ini, dimainkan secara khusus per alat musik atau dimainkan juga secara bersama-sama. Hanya konsep saja yang membedakannya.

Paguyuban Seni Kenthongan Jankiss yang saya lihat kali ini, sungguh membuat kagum semua rombongan. Rampak semua alat musik yang mereka tabuh berhentak ramai membawakan beberapa buah lagu yang cukup fasih ditelinga kita dengan formasi barisan dan tarian yang berganti di setiap lagunya. Ya, mereka memainkan musik sambil bernyanyi. Menurut sang pemilik, modal kesenian ini hanyalah NAFAS. Sekitar 10 lagu mulai dari lagu Gethuk sampai lagu Jujur milik Radja yang mereka bawakan dengan semangat yang konsisten. Banyak juga akhirnya kita yang turun joget di tengah lapangan dengan cueknya.. hehehe

Jankiss yang diambil dari lokasi dimana paguyuban seni ini didirikan yaitu dari jalan Kisar dan jalan Sersan sudiro di daerah Karangklesem, Purwokerto Selatan, di prakarsai oleh seorang pemuda bernama Yiyiet (Hp. 0856 24747434) dengan pembina bernama H. Sukarman (0281) 637203. Ide dari Yiyiet yang melihat banyaknya pemuda di sekitar rumahnya yang tidak memiliki pekerjaan tetap, yang hobinya hanya bermain gitar dan nongkrong di warung rokok tanpa tujuan hidup yang tak pasti, akhirnya dikumpulkannya semua pemuda tersebut untuk lebih dioptimalkan naluri berkesenian dan berkreasi sebatas kemampuan mereka. Maka terbetiklah ide membuat paguyuban seni kentongan yang tidak terlalu memerlukan modal besar satu setengah tahun yang lalu. Irama yang dinamis itu yang membuat mereka selalu bersemangat untuk berlatih. Sudah sekitar 35 personil yang aktif dalam paguyuban tersebut. Untuk kali ini, mereka menampilkan sekitar 22 orang termasuk dirigen yang sangat lincah menari sambil mengatur irama, gerakan. Menurut orang tua saya yang sudah pernah melihat grup ini sebanyak tiga kali, untuk yang sekarang ini mereka sudah tampak berbeda. Apa yang beda? Ternyata mereka baru memiliki seragam resmi dan sudah bersepatu sandal. Ketika dikonfirmasi tentang hal ini, Pak Yiyiet membenarkan, seragam ini baru mereka miliki dua bulan lalu, hasil dari ngamen dari hotel ke hotel atau dari undangan ke undangan. Padahal prestasi mereka sudah cukup bisa dibanggakan menjadi juara kenthongan se kabupaten Banyumas sudah disabetnya berkali-kali. Untuk bulan depan mereka terlibat untuk memecahkan rekor MURI penabuh kentongan terbanyak. Salut untuk prestasi kalian.

Pantas untuk diacungi jempol cara mereka untuk lebih bisa menghasilkan dan mempertahankan karya seni tradisional yang dipadu asrikan dengan lagu-lagu jaman kiwari di tengah derasnya arus bentuk kesenian dari barat yang menghantam jiwa kita sekarang. Kegigihan dan rasa optimis yang dijadikan modal dasar ditengah keterbatasan modal financial yang mereka miliki. Semakin terus maju dan berkarya…

Tidak ada komentar:

Syukron Jazamululloh.......Hadanalloh waiyyakum....